Manajer PSIM Yogyakarta, Razzi Taruna, mengungkapkan rasa syukurnya karena tim asuhannya berhasil menduduki posisi atas dalam klasemen sementara BRI Super League 2025/2026. Saat ini, Laskar Mataram menempati peringkat keenam klasemen sementara dengan mengumpulkan 30 poin.

Namun demikian, capaian di pertengahan musim ini belum bisa dijadikan patokan kesuksesan tim secara menyeluruh. Menurut Razzi, yang paling krusial adalah hasil akhir saat kompetisi selesai.

"Kami selalu menyikapi target dengan realistis. Tentu kami sangat puas dengan pencapaian sekarang, tapi bagi saya ini belum seberapa, karena yang terpenting bukanlah posisi di paruh musim melainkan di akhir kompetisi," kata Razzi.

"Karena sering terjadi tim yang berada di peringkat lima di paruh musim bisa turun ke posisi 10 ke bawah di paruh kedua. Contohnya Malut United kemarin di paruh musim ada di posisi 13, tapi di akhir musim finish di peringkat tiga. Saya lebih memilih hasil akhir yang lebih baik," imbuhnya.

Jangan Putus Dukungan

Klub berjuluk Laskar Mataram ini telah meraih delapan kemenangan, enam hasil imbang, dan tiga kekalahan dari 17 pertandingan. Razzi memohon dukungan penuh dari semua pihak agar tim dapat mempertahankan konsistensi hingga akhir musim.

"Alhamdulillah kami diberi posisi ini (peringkat enam), saya mohon teman-teman tetap memberikan dukungan. Manajemen dan tim teknis pasti akan berusaha maksimal untuk menjaga konsistensi," ujar Razzi.

"Saya berharap teman-teman terus mengawal PSIM Jogja. Kami juga bukan manajemen atau tim yang anti kritik."

"Selama ini kami selalu terbuka terhadap kritik. Mungkin lewat tulisan bisa diingatkan bahwa target kita memang seperti ini, karena hal ini juga sudah dibicarakan dengan pelatih," jelas pria berkacamata tersebut.

Potensi Tekanan di Putaran Kedua

Lebih jauh, Razzi menyoroti kemungkinan munculnya tekanan akibat ekspektasi tinggi terhadap Laskar Mataram. Ia menggambarkan situasi jika tim mengalami hasil buruk dalam dua pertandingan berturut-turut.

"Misalnya begini, sekarang PSIM di peringkat enam. Nanti amit-amit kalau kami kalah dua kali beruntun. Dengan kondisi ini orang pasti langsung goyah, 'Wah ada apa dengan PSIM? Apa PSIM bisa bertahan?'" jelasnya.

"Padahal logikanya, untuk tim promosi kalah dua kali beruntun sebenarnya tidak terlalu buruk. Tapi karena orang sudah menganggap 'PSIM tim enam besar,' kalau kalah dua kali berturut-turut."

"Ini menunjukkan bahwa ekspektasi suporter terhadap PSIM semakin tinggi seiring performa yang telah dicapai," tutup Razzi Taruna.